Selasa, 26 Maret 2013
Senin, 03 September 2012
INSPIRASI
Banyak orang berpikir, tinggal di daerah terpencil di lereng
pegunungan dengan akses transportasi dan komunikasi yang terbatas
mengurangi kreativitas dan mendorong perilaku berpikir yang statis.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi Sulastri, perempuan dari Pegunungan
Wilis di lereng Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa
Timur. Sulastri berhasil menunjukkan kepada dunia mengenai ide-idenya
yang inovatif dalam gerakan penyadaran masyarakat di pelbagai bidang
kehidupan. Ide-idenya bisa menggerakkan ekonomi rakyat demi mengangkat
derajat kehidupan mereka. Padahal, dia tidak pernah mengenyam bangku
kuliah. "Kuncinya hanya belajar dan terus belajar. Tidak boleh malu
sekalipun harus bertanya kepada yang lebih muda," ujar Kepala Desa Joho
itu. Dia berhasil mengentaskan warganya dari kantong kemiskinan.
Desa
Joho yang terletak 1.000 meter di atas permukaan laut adalah daerah
gersang dan tandus pada musim kemarau. Tanaman pangan dan hortikultura
hanya tumbuh satu musim dalam setahun. Praktis, ekonomi pertanian yang
menopang hajat hidup mayoritas penduduk tidak berjalan normal. Hasil
pertanian berupa jagung, ketela, dan kadang juga padi hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan perut warga sehari-sehari. Adapun kebutuhan
sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan, terpaksa dikorbankan.
Seperti lazimnya desa tertinggal, angka kemiskinan tinggi, angka putus
sekolah tinggi, derajat kesehatan rendah. Dari 3.242 jiwa penduduk
desa, sepertiganya masuk dalam kategori penduduk sangat miskin. Kondisi
kaum perempuannya sangat menyedihkan. Mereka hanya berkutat di sumur,
dapur, dan kasur. Kalaupun ada yang sedikit lebih maju, itu karena
mereka menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri.
Pulang kampung
Kisah perjuangan
Sulastri dimulai saat ia memutuskan pulang ke kampung orangtuanya di
Desa Joho, tahun 2000. Dia lahir dan besar di Pangkalan Bun, Kalimantan
Tengah, kampung para transmigran asal Jawa. Saat itu, kondisi Sulastri
tidak lebih baik dibandingkan sebagian besar perempuan di desanya,
meskipun ia sempat mengenyam Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah 2
Kediri. Setelah menikah dengan Mulyono dan dikaruniai seorang anak, ia
menjadi ibu rumah tangga biasa. Apalagi, sebagai anak bungsu dari tiga
bersaudara, Sulastri harus mengurus orangtuanya. Untuk menopang ekonomi
keluarga, ia membuka toko kelontong di rumahnya. Suaminya hanya sopir
angkutan.
Pada tahun 2003, sekelompok mahasiswa Sekolah
Tinggi Agama Islam Negeri Kediri melakukan kuliah kerja nyata di
desanya. Mereka meninggalkan "pekerjaan" baru bagi Sulastri untuk
meneruskan mengajar di Taman Pendidikan Al Quran rintisan mahasiswa.
"Kelihatannya sederhana, tetapi praktiknya tidak mudah. Jangankan
mengajar, punya pengetahuan saja tidak," katanya. Melihat ironi
kehidupan di depan matanya, Sulastri berinisiatif datang ke kampus dan
meminta mahasiswa mengajari ibu-ibu menjadi tutor. Sejak saat itu, ia
mulai menghimpun kaum perempuan di desanya berkumpul sekadar berbagi
cerita dan informasi.
Cerita dari
perempuan-perempuan desanya membuat hati Sulastri semakin trenyuh. Dia
pun mendirikan Paguyuban Perempuan Sido Rukun hanya dengan berbekal
niat dan semangat. Demi memajukan paguyuban, ia nekat datang ke kampus
dan meminta bantuan hewan ternak untuk dipelihara dengan harapan dapat
menambah penghasilan masyarakat. "Ketika itu kami diberi uang Rp
500.000 yang hanya cukup membeli dua ekor kambing kacang (atau kambing
sayur, kambing berkualitas paling rendah)," ujarnya.Induk kambing
kemudian dipelihara bergantian. Anaknya diambil sebagai upah
pemelihara. Jika anaknya lebih dari satu, anak yang lain dibagikan
kepada keluarga yang membutuhkan.
Meskipun sukses dengan usaha kambingnya, Sulastri
masih merasa ada yang mengganjal di hatinya. Itu karena ia masih
melihat ibu-ibu itu tak punya kegiatan alias menganggur. Dia lalu
mengajak mereka membuat usaha keripik buah pisang, talas, dan sukun.
Sulastri sendiri yang memasarkannya ke Kota Kediri, sekitar 20
kilometer dari desanya. Ide pembuatan keripik didasari murahnya harga
hasil bumi. Setandan pisang raja nangka, misalnya, hanya Rp 1.500 sampai
Rp 2.000. Padahal, setelah diolah menjadi keripik, setandan pisang itu
bisa menghasilkan Rp 60.000. Harga talas dan sukun malah lebih rendah
lagi.
Koperasi
Paguyuban kemudian
mendirikan Koperasi Simpan Pinjam Sido Makmur. Modalnya berasal dari
iuran pokok anggota Rp 25.000 dan iuran wajib Rp 5.000 per bulan. Kini
koperasi itu bisa meminjamkan Rp 2 juta kepada para anggotanya. Padahal,
awalnya pinjaman maksimal cuma Rp 50.000. "Sebelum ada koperasi, warga
pinjam ke rentenir. Bayarnya setelah panen. Kalau gagal panen, utang
menumpuk karena bunganya tinggi," katanya.
Berkat pinjaman koperasi, masyarakat bisa membuka
usaha baru atau mengembangkan usaha yang sudah berjalan. Kini, tercatat
30 usaha budidaya lebah madu berkembang di Joho.Itu pun juga tidak
lepas dari usaha Sulastri meminta bantuan Dinas Kehutanan Kabupaten
Kediri memberikan penyuluhan tentang ternak madu dan modal awal dua
kotak sarang lebah.Yang tidak kalah penting, bangkitnya industri rumah
tangga pembuatan "kutang (beha) tradisional". Sedikitnya ada tiga
perajin dengan produksi ratusan buah beha per minggu.Perempuan yang
tengah hamil muda anak keduanya itu juga gencar mempromosikan produk
usaha kecil dari desanya di setiap kesempatan, terutama ketika bertemu
masyarakat dari luar.
Dalam tiga tahun terakhir, penduduk miskin di Desa
Joho berkurang 359 keluarga. Kini hanya 600 rumah tangga. Hasil
pendataan Badan Pusat Statistik, rumah tangga miskin yang berhak
menerima beras miskin tahun 2010, tinggal 507 keluarga. Kini Sulastri
mulai bergerak ke sektor lain. Misalnya, mengembangkan kesenian musik
tradisional dengan alat lesung dan alu, alat menumbuk padi pada zaman
dahulu. Kesenian ini tampil pada acara-acara penyambutan tamu. Namun,
tak jarang juga mereka diundang di perhelatan, seperti pameran
kerajinan, acara wisuda sarjana, dan momen penting lainnya.
Sulastri terus bergerak. Dia berjanji akan
mengawal pendidikan di desanya agar generasi muda yang lahir menjadi
manusia yang lebih unggul dan andal, tidak hanya sekadar menjadi TKI.
Dia juga berencana merintis kembali usaha pembuatan sirup berbahan
tanaman rosela. Dia seperti memberikan pencerahan bahwa bicara saja
tidak cukup. Bukti dengan kerja keras lebih dibutuhkan negeri ini.
sumber : Runik Sri Astuti/kompas
Jumat, 31 Agustus 2012
KETUPAT
IKATAN PEDAGANG MBADUG
IPM MBADUG
Ds.Malangsari Kec.Tanjunganom Kab.Nganjuk
MENGUCAPKAN :
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
IPM MBADUG
Ds.Malangsari Kec.Tanjunganom Kab.Nganjuk
MENGUCAPKAN :
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
Senin, 25 April 2011
DIRIKAN KOPERASI SEBAGAI BENTUK KONGKRIT MEMBANGUN NEGERI INI
Setiap Pedagang pasti Mengalami Situasi darurat/kepepet.entah karena dagangan yang kemarin gak begitu laku,entah anaknya membutuhkan biaya sekolah,atau karena harus membeli sesuatu yang sifatnya mendesak dan tidak bisa di tunda.
Mungkin berikut ini bisa menjadi alternatif:
- Ke saudara:Siapa lagi yang bisa menolong kita selain saudara.tetapi,saudara-saudara kita sudah sering kali kita pinjami.jadi tidak mungkin kita pinjami lagi.
- ke tetangga:Tidak bisa,karena tidak enak rasanya jika nanti pada waktu pengembalian ada mblesetnya.karena dulu minjem 20ribu terlambat pengembaliannya malah membikin hubungan baik menjadi retak.jangan ketetangga ahhhh.........
- Ke Bank :ehmmm...,tidak bisa,karena urusan administrasinya ruwet dan bertele-tele,apalagi pihak Bank mengharuskan adanya jaminan,sedangkan kita apa yang harus kita jaminkan??meskipun ada program KUR katanya....tapi tetap aja pencairannya RUWET...!!
- Ke KSP/Bank Titil: ya..ya..ya..,mudah sich....,cepat dan pasti bisa,Tetapi bunganya sangat tinggi dan sangat merugikan kita.
SOLUSINYA
- Kumpulkan modal sendiri dengan tetangga sekitar kita,saudara-saudara,teman-teman dekat.buat kesepakatan bersama untuk MEMBANGUN KOPERASI SENDIRI yang bisa menyediakan dana cepat dengan bunga / jasa yang tidak memberatkan anggota.Koperasi yang berbeda dengan KSP yang hanya mementingkan keuntungkan semata.Bangun koperasi yang menguntungkan bagi diri kita dan anggotanya.Bentuk dan Bangunlah KOPERASI di lingkungan terkecil kita.
Minggu, 10 April 2011
Berkumpul dan BerKoperasi ala Ikatan Pedagang Mbadug (IPM)
Suasana Kekeluargaan Pedagang Mbadug
Mbadug Malangsari 10-April-2011
Koperasi merupakan unit usaha yang berasaskan kekeluargaan,yang mana pelaku utama dari unit usaha tersebut adalah pedagang sendiri,sumber daya yang ada dikelola bersama sehingga mencapai tujuan yang diinginkan yakni kesejahteraan pedagang pada umumnya dan anggota pada khususnya.koperasi dapat membentuk pedagang menjadi mandiri,karena dengan hal ini pedagang tidak akan mempunyai sikap ketergantungan.
Secara garis besar badan usaha koperasi adalah kumpulan orang-orang yang tergabung dalam dalam sebuah organisasi dengan tujuan yang sama,badan usaha inipun mempunyai peranan penting dalam perekonomian pedagang dan juga bagi Pemerintah.
Sejalan dengan kebijakan tersebut,seluk beluk tentang koperasi perlu terus di informasikan kepada pedagang,hal ini dilakukan oleh Pepenk dan Mujianto Bendol di kawasan pasar ikan Mbadug.koperasi sebagai salah satu lembaga ekonomi akan semakin dapat difahami dan dirasakan manfaatnya oleh pedagang ,sebagai wadah pengembangan usaha koperasi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan pedagang khususnya anggota.
Meningkatkan motivasi dan kerjasama diantara anggota kelompok dalam rangka pengelolaan dan pengembangan usaha yang dilakukan.
Melalui kelompok ini diharapkan usaha perikanan budidaya yang dikelola semakin berkembang dan membawa dampak perubahan yang lebih baik terhadap peningkatan kesejahteraan para anggotanya.
Adapun tujuan dibentuknya koperasi pedagang diantaranya:
- Dengan dibentuknya koperasi simpan pinjam diharapkan dapat meningkatkan perekonomian di lingkungan para pedagang mbadug.
- Dengan dibentuknya koperasi simpan pinjam diharapkaan pedagang menjadi mandiri dalam berdagang dan berwira usaha di lingkungan pasar ikan mbadug.
- Dapat meningkatkan rasa kekeluargaan dan sikap gotong royong di lingkungan wisata kuliner mbadug melalui koperasi.
- Meningkatkan pendapatan perkapita pedagang melalui sisa hasil usaha (SHU).
- Menyejahterakan anggota.
By:Pepenk.
Rabu, 06 April 2011
RUWATAN PASAR MBADUG MARET 2011
Selamat dan sukses buat keluarga besar Ikatan Pedagang Mbadug ( IPM )Nganjuk
Apa yang di lakukan oleh kawan-kawan kita para komunitas pedagang ikan mbadug harus kita apresiasi. Di tengah hiruk pikuk swasana bathin negeri yang terkoyak akibat dari krisis multidimensi hingga krisis moral yang melanda para pejabat kita, sebagian dari saudara kita masih mampu berbuat untuk kebangkitan negeri dengan suka rela.Banyak pelajaran yang kita peroleh dari acara "ruwatan yang di gelar oleh seluruh pelaku pasar ikan mbaduk, mulai nelayan,pedagang ikan segar,pedagang ikan olahan,pkl, tukang parkir, semua bersuka cita menyambut "pesta" kemengangan ini. Inilah kemenangan kecil suatu komunitas yang harus kita teladani, bagaimana mereka (pelaku pasar ) secara bersama-sama membangun, mengelola atas sumberdaya yang mereka miliki. Kegiatan ruwatan yang di hadiri mulai perangkat desa setempat sampai pemerintahan daerah ini, mulai dari unsur kepolisian sampai militer ini, adalah merupakan bentuk syukur Kehadirat Allah sang pencipta alam, yang telah memberikan kekayaan alam bagi uamat nya, yang samapai saat ini sangat di rasakan oleh semua pelaku pasar ikan mbadug.
Unsur lain yang harus kita teladani adalah bagaimana mereka mampu mengintegrasikan antara alam,logika,dan realitas hidup, sehingga keseimbangan alam dan hidup bisa terus lestari.Simbiosis antara pelaku dan lingkungan alam sangat terasa di lingkungan pasar ikan mbadug ini, bagaimana antara tradisi akar rumput (pedagang ) dengan nilai ferstikal bersinergi dan menghasilkan sebuah kekuatan dasyat untuk lebih menghargai ciptaan Tuhan berupa Bumi,langit,dan isinya.
Saat ini pasar ikan mbadug sudah menjadi tempat kuliner yang memanjakan para penikmatnya, akan tetapi pengunjung juga bisa menikmati keindahan alamnya, dan aneka ragam permainan, sungguh sangat mempesona.
Akan tetapi, yang harus dilakukan oleh semua pelaku pasar, bahwa bagaimana pasar ini betul-betul pasar tradisional, tetap mempertahankan model dan bentuk sebagai pasarnya rakyat,bukan pasar investor,bukan pasar waralaba,bukan pasar modern yang bisa menggusur para pedagang dan pelaku pasar mbadug. Karena pengalaman selama ini, banyak pasar beralih fungsi menjadi pasar modern, sehingga para pelaku pasar, yang mempunyai sejarah berdiri nya pasar akan tergusur oleh pemodal.
Untuk itu sekali lagi kami atas nama pribadi dan Serikat Rakyat Anjuk Ladang Bangkit ( Serab Nganjuk ) mengucapkan selamat bagi Ikatan Pedagang Mbadug (IPM ) yang telah sukses menyelenggarakan acara Gelar Doa Bersama Dan Ruwatan hari selasa tanggal 29 maret 2011 dengan berbagai macam acara.
Kita jangan berpuas diri,kita harus semakin memperkuat diri karena apapun bisa terjadi di pasar kita tercinta ini,terutama kaum pemodal (kapitalis) yang bisa merubah segalanya di pasar mabdug ini.
Buat pemangku kepentingan, dalam hal ini pemerintah kabupaten Nganjuk dan Dinas terkait, mohon untuk perlindungan bagi seluruh pelaku pasar ikan mbadug ini, sehingga mereka semua akan merasa tenang dan mendapat kesejahteraan, sehingga mereka pun akan lancar membayar pajak.
Selain itu juga sinergi anatra pelaku pasar harus terus dilakukan, apapun yang dilakukan harus melibatkan para pedagang, baik perencanaan dan program bagi pelaku pasar, sehingga pasar kuliner yang menjadi kebanggan masyarakt Nganjuk ini bisa kita pertahankan, nilai historis,budaya,sosial dan ekonomi.( By:IPM)
Apa yang di lakukan oleh kawan-kawan kita para komunitas pedagang ikan mbadug harus kita apresiasi. Di tengah hiruk pikuk swasana bathin negeri yang terkoyak akibat dari krisis multidimensi hingga krisis moral yang melanda para pejabat kita, sebagian dari saudara kita masih mampu berbuat untuk kebangkitan negeri dengan suka rela.Banyak pelajaran yang kita peroleh dari acara "ruwatan yang di gelar oleh seluruh pelaku pasar ikan mbaduk, mulai nelayan,pedagang ikan segar,pedagang ikan olahan,pkl, tukang parkir, semua bersuka cita menyambut "pesta" kemengangan ini. Inilah kemenangan kecil suatu komunitas yang harus kita teladani, bagaimana mereka (pelaku pasar ) secara bersama-sama membangun, mengelola atas sumberdaya yang mereka miliki. Kegiatan ruwatan yang di hadiri mulai perangkat desa setempat sampai pemerintahan daerah ini, mulai dari unsur kepolisian sampai militer ini, adalah merupakan bentuk syukur Kehadirat Allah sang pencipta alam, yang telah memberikan kekayaan alam bagi uamat nya, yang samapai saat ini sangat di rasakan oleh semua pelaku pasar ikan mbadug.
Unsur lain yang harus kita teladani adalah bagaimana mereka mampu mengintegrasikan antara alam,logika,dan realitas hidup, sehingga keseimbangan alam dan hidup bisa terus lestari.Simbiosis antara pelaku dan lingkungan alam sangat terasa di lingkungan pasar ikan mbadug ini, bagaimana antara tradisi akar rumput (pedagang ) dengan nilai ferstikal bersinergi dan menghasilkan sebuah kekuatan dasyat untuk lebih menghargai ciptaan Tuhan berupa Bumi,langit,dan isinya.
Saat ini pasar ikan mbadug sudah menjadi tempat kuliner yang memanjakan para penikmatnya, akan tetapi pengunjung juga bisa menikmati keindahan alamnya, dan aneka ragam permainan, sungguh sangat mempesona.
Akan tetapi, yang harus dilakukan oleh semua pelaku pasar, bahwa bagaimana pasar ini betul-betul pasar tradisional, tetap mempertahankan model dan bentuk sebagai pasarnya rakyat,bukan pasar investor,bukan pasar waralaba,bukan pasar modern yang bisa menggusur para pedagang dan pelaku pasar mbadug. Karena pengalaman selama ini, banyak pasar beralih fungsi menjadi pasar modern, sehingga para pelaku pasar, yang mempunyai sejarah berdiri nya pasar akan tergusur oleh pemodal.
Untuk itu sekali lagi kami atas nama pribadi dan Serikat Rakyat Anjuk Ladang Bangkit ( Serab Nganjuk ) mengucapkan selamat bagi Ikatan Pedagang Mbadug (IPM ) yang telah sukses menyelenggarakan acara Gelar Doa Bersama Dan Ruwatan hari selasa tanggal 29 maret 2011 dengan berbagai macam acara.
Kita jangan berpuas diri,kita harus semakin memperkuat diri karena apapun bisa terjadi di pasar kita tercinta ini,terutama kaum pemodal (kapitalis) yang bisa merubah segalanya di pasar mabdug ini.
Buat pemangku kepentingan, dalam hal ini pemerintah kabupaten Nganjuk dan Dinas terkait, mohon untuk perlindungan bagi seluruh pelaku pasar ikan mbadug ini, sehingga mereka semua akan merasa tenang dan mendapat kesejahteraan, sehingga mereka pun akan lancar membayar pajak.
Selain itu juga sinergi anatra pelaku pasar harus terus dilakukan, apapun yang dilakukan harus melibatkan para pedagang, baik perencanaan dan program bagi pelaku pasar, sehingga pasar kuliner yang menjadi kebanggan masyarakt Nganjuk ini bisa kita pertahankan, nilai historis,budaya,sosial dan ekonomi.( By:IPM)
Selasa, 23 November 2010
SELAMAT DATANG DI MBADUG WISATA KULINER NGANJUK
Mbadug,20Nov 2010

sa damai tidak hanya bagi para pedagang, tapi bagi mereka yang ingin menikmati masakan khas mbadug betah dan kerasan. Berat rasanya meninggalkan wisata ini ujar Ibu Ida yang asli surabaya ini ketika singgah dan menikmati nikmat nya masakan di pasar ikan ini. para penikmat rasa semakin di manjakan dengan berbagai sarana dan permaianan bagi anak-anak.Angin yang bertiup sepoi-sepoi dan nampak dari kejahuan gunung wilis yang tampak biru. hamparan padi yang menghijau di sekitar pasar semakin menambah suasana semakin nyaman. Gemercik muntahan air sungai di sebelah pasar menambah nikmatnya dan segarnya suasana ikatan mbadug.

swasana ritual yang di lakukan oleh para pedagang mbadug
Angin yang berhembus dari puncak wilis,menambah rasa damai tidak hanya bagi para pedagang, tapi bagi mereka yang ingin menikmati masakan khas mbadug betah dan kerasan. Berat rasanya meninggalkan wisata ini ujar Ibu Ida yang asli surabaya ini ketika singgah dan menikmati nikmat nya masakan di pasar ikan ini. para penikmat rasa semakin di manjakan dengan berbagai sarana dan permaianan bagi anak-anak.Angin yang bertiup sepoi-sepoi dan nampak dari kejahuan gunung wilis yang tampak biru. hamparan padi yang menghijau di sekitar pasar semakin menambah suasana semakin nyaman. Gemercik muntahan air sungai di sebelah pasar menambah nikmatnya dan segarnya suasana ikatan mbadug.
Langganan:
Postingan (Atom)


